Senin, 15 Mei 2017

Pengendalian Penyakit Hawar Daun

Pada jurnal yang ditulis oleh Sudir, B. Nuryanto, dan Triny S. Kadir dengan judul “Epidemiologi, Patotipe, dan Strategi Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tanaman Padi” menjelaskan bahwa hawar daun bakteri merupakan salah satu penyakit tanaman padi yang sangat penting di negara-negara penghasil padi di dunia, termasuk di Indonesia (Ou 1985, dalam Sudir, 2012). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae, yang dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan, mulai dari pesemaian sampai menjelang panen. Penyebab penyakit menginfeksi tanaman padi pada bagian daun dengan cara melalui luka daun atau melalui lubang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun, sehingga menurunkan kemampuan tanaman untuk berfotosintesis. Apabila hal ini terjadi pada fase generatif maka proses pengisian gabah kurang sempurna. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae, yang dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan, mulai dari pesemaian sampai menjelang panen. Penyebab penyakit menginfeksi tanaman padi pada bagian daun dengan cara melalui luka daun atau melalui lubang alami berupa stomata dan merusak klorofil daun, sehingga menurunkan kemampuan tanaman untuk berfotosintesis. Apabila hal ini terjadi pada fase generatif maka proses pengisian gabah kurang sempurna.



Penyebab dan Gejala Penyakit Hawar Daun Bakteri
Xanthomonas oryzae pv. oryzae ini mempunyai tingkat infeksi yang bervariasi berdasarkan kemampuannya menginfeksi varietas padi yang mempunyai gen dengan resistensi yang berbeda dan interaksi antara gen patogen dan gen pertahanan tanaman (Jha et al. 2007, dalam Sudir 2012). Gejala kresek sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan hama penggerek. Awalnya, pada tepi atau bagian daun yang luka tampak garis bercak kebasahan, kemudian berkembang meluas, berwarna hijau keabu-abuan, seluruh daun keriput, dan akhirnya layu seperti tersiram air panas. Gejala umum pada tanaman yang terserang bakteri ini adalah penggulungan helaian daun dan warna daun yang berubah. Pada tanaman dewasa umur lebih dari 4 minggu setelah tanam, penyakit hawar daun bakteri menimbulkan gejala hawar. Gejalnya  diawali berupa bercak kebasahan berwarna keabu-abuan pada sisi daun, biasanya dimulai dari daerah dekat pucuk daun. Bercak ini kemudian berkembang meluas ke ujung dan pangkal daun dan melebar. Bagian daun yang terinfeksi berwarna hijau keabu-abuan dan agak menggulung, kemudian mengering dan berwarna abu-abu keputihan. Pada tanaman yang rentan, gejala ini terus berkembang hingga seluruh daun menjadi kering dan kadang-kadang sampai pelepah.
Pada pagi hari saat cuaca lembap dan berembun, eksudat bakteri sering keluar ke permukaan bercak berupa cairan berwarna kuning dan pada siang hari setelah kering menjadi bulatan kecil berwarna kuning. Eksudat ini merupakan kumpulan massa bakteri yang mudah jatuh dan tersebar oleh angin, air hujan dan gesekan daun. Apabila penularan terjadi pada saat tanaman berbunga maka gabah tidak terisi penuh bahkan hampa.
Gambar Padi Terinfeksi
Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit Hawar Daun Bakteri
Bakteri Xanthomonas oryzae pv.oryzae dapat bertahan hidup dalam tanah, jerami tanaman terinfeksi, sisa-sisa tanaman (seresah), gabah (benih), tanaman inang selain padi dan gulma. Pada tempat-tempat itulah akan menjadi sumber penularan penyakit dari musim ke musim. Bakteri juga dapat bertahan dalam biji sampai beberapa saat, sehingga penularan dapat terjadi melalui benih. Pada jurnal ini dijelaskan faktor yang dapat membuat bakteri ini berkembang antara lain:
  • Varietas rentan, terutama pada saat cuaca lembap dan pemupukan dengan dosis tinggi namun tidak diimbangi dengan unsur lain
  • Kelembapan yang tinggi dapat mempercepat perkembangan penyakit ini. Pertanaman yang diairi secara terus-menerus membentuk kondisi lingkungan yang menyebabkan penyakit berkembang lebih baik.
  • Begitu pula tanaman yang terlalu rapat, sangat mendukung perkembangan penyakit. Pertanaman dengan jarak tanam rapat akan membuat kondisi lingkungan dengan kelembapan tinggi dan mempermudah penularan dari satu tanaman ke tanaman lain karena adanya pergesekan antardaun yang sudah terinfeksi dengan daun yang masih utuh

Gambar Daun yang terinfeksi


Patotipe Patogen Hawar Daun Bakteri dan Sebarannya
Patotipe merupakan populasi patogen yang semua anggota individunya mempunyai kemampuan yang sama sebagai parasit. Parasit merupakan organisme yang bergantung pada organisme lain untuk memperoleh makanan dan sebagai tempat tinggal. Patotipe ditentukan berdasarkan reaksinya atau virulensinya terhadap satu perangkat varietas diferensial terpilih (Mew et al. 1989, Suparyono et al. 2003 ). Selama ini patotipe patogen HDB tidak dapat dibedakan berdasarkan bentuk morfologi patogen maupun gejala yang ditimbulkan (Suparyono et al. 2003). Saat organisme tersebut melakukan aktivitas, maka tanaman sebagai tempat inangnya akan  merugi dan mengalami perubahan pada tanamannya. Ketika proses pertumbuhan dan produksi  bakteri cepat dilakukan dapat menimbulkan penyebaran patogen hawar daun mudah meluas. Patogen hawar daun bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo), merupakan penyebab penyakit HDB dengan banyak patotipe dan dapat menyerang tanaman padi pada berbagai stadia tumbuh, sehingga sulit dikendalikan dan penyebarannya juga meluas. Hal tersebut juga berdampak pada hasil produksi padi.
Perbedaan petotipe patogen hawar daun padi pada jurnal yang penulis bahas dibedakan menjadi tiga patotipe dominan di Indonesia, yaitu patotipe III, patotipe IV, dan patotipe VIII. Menurut Suparyono et al. (2004) dan Sudir et al. (2009) menjelaskan bahwa berdasarkan virulensinya terhadap seperangkat varietas diferensial (Kinmase, Kogyoku, Tetep, Wase Aikoku dan Java 14) di sentra produksi padi di Jawa ditemukan tiga kelomok patotipe bakteri X. oryzae pv. oryzae yang dominan, yaitu patotipe III, IV, dan VIII dengan komposisi dan dominasi bervariasi. 
Tabel Penyebaran patotipe bakteri Xanthomonas oryzae pv. Oryzae (Xoo) di beberapa provinsi Indonesia pada tahun 2009-2010.
Provinsi
Jumlah patotipe bakteri Xoo (isolat)
III
IV
VIII
Total
Banten
0
0
9
9
Jawa Barat
51
43
67
161
Jawa Tengah
22
28
89
139
DI Yogyakarta
12
8
22
42
Jawa Timur
47
53
93
193
Sulawesi Selatan
102
41
33
176
Sumatera Utara
69
112
19
200

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sudir et al. (2012), menunjukkan hasil isolasi bakteri Xoo di beberapa provinsi Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut jumlah isolat terbanyak terdapat di Provinsi Sumatera Utara, sedangkan paling sedikit di Provinsi Banten.
Gambar bakteri aeorobik

 Teknologi Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri

                         Teknik Budidaya
Penanaman benih dan bibit yang sehat merupakan cara awal yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri. Karena penularan penyakit ini dapat terjadi melalui bibit dan benih tanaman padi yang akan ditanam. Sehingga perlu adanya uji sertifikasi benih guna mencegah meluasnya penyakit hawar daun bakteri. Selain itu dapat pula dilakukan perendaman benih (seed treatment) dengan bakterisida Agrimycin 0,02% selama 10 jam atau dengan perendaman benih pada air panas 57°C selama 10 menit (Kadir et al., 2009). Dan penularan penyakit hawar daun bakteri ini dapat melalui lubang ataupunluka pada tanaman, sehingga tidak dianjurkan untuk memotong bagian tanaman agar tidak mudah terserang penyakit ini.
Cara tanam dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae pada tanaman padi. Karena apabila menanam terlalu rapat dapat menimbulkan kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi bakteri. Maka, cara tanam dengan sistem jajar legowo dan pengairan berselang (Intermitten irrigation). Keuntungan yang didapatkan yaitu tanaman padi dapat mengurangi tingkat kelembapan disekitarnya dan dapat mengurangi pergesekan antardaun padi karena penyakit hawar daun bakteri juga dapat tertular melalui kontak langsung antara daun sehat dengan daun yang terinfeksi penyakit hawar daun bakteri.
Pemupukan merupakan faktor penting dalam penanaman padi agar mendapatkan padi dengan kualitas yang baik. Namun pemupukan dengan dosis tinggi juga dapat menimbulkan penyakit hawar daun bakteri khususnya untuk pupuk N. Namun, pemberian pupuk K dapat menyebabkan tanaman menjadi lebih tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri. Sehingga pemberian pupuk N dan pupuk K harus seimbang agar dapat menekan perkembangan penyakit hawar daun bakteri.
Sanitasi lingkungan merupakan status kesehatan lingkungan sekitar, dalam hal ini tentunya lingkungan persawahan sebagai tempat tumbuhnya tanaman padi. Menurut Ou (1985) sanitasi lingkungan sawah sangat penting karena bakteri Xanthomonas campestris pv. Oryzae dapat bertahan pada inang alternatif dan sisa-sisa tanaman. Sehingga perlu adanya menjaga kebersihan sawah dari gulma yang mungkin menjaadi inang alternatif. Dan juga membersihkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi. Selain itu dapat pula menggunakan menggunakan cara alternatif terakhir yaitu dengan memberikan pestisida. Namun masih belum ditemukan bakterisida yang efektif untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri ini.

Penanaman Varietas Tahan Berdasarkan Kesesuaian Patotipe Patogen
Salah satu cara untuk mencegah penyakit hawar daun bakteri adalah dengan menanam varietas tahan. Penggunaan varietas tahan sangat efektif dalam mengatasi penyakit hawar daun bakteri ini. Namun, terdapat kendala di dalam pengaplikasian varitas tahan ini. Karena kemampuan bakteri Xanthomonas campestris pv. oryzae dalam membentuk patotipe baru yang lebih virulen sehingga sifat ketahanan varietas mudah dipatahkan. Kerana kemampuan tersebut maka diperlukan pemantauan komposisi dan dominasi patotipe bakteri tersebut secara terus menerus. Tujuannya agar dapat diketahui patotipe yang dominana dilapang, agar dapat merekomendasikan varietas tahan yang memiliki gen tahan sesuai dengan patotipenya. Kesesuaian penanaman varietas tahan dengan keadaan patotipe patogen yang ada di lapangan berdampak terhadap peningkatan efektivitas pengendalian penyakit hawar daun bakteri, sehingga penularan penyakit dapat ditekan.

35 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. terima kasih :) materinya sangat membantu dalam menyelesaikan tugas

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kakak, semoga bermanfaat untuk ke depannya

      Hapus
  3. Nice👍artikel sangat bermanfaat dan membantu tugasku

    BalasHapus
  4. Nice👍artikel sangat bermanfaat dan membantu tugasku

    BalasHapus
  5. artikel ini sangat membatu , saya jadi tau apa itu hawar daun. setelah saya membaca artikel ini saya tau bagaimana teknik membudiyanya

    BalasHapus
  6. weeee,,,kereeennn,,haha
    well done girl,,^^

    BalasHapus
  7. Daebak... Sangat bermanfaat

    BalasHapus
  8. asik eka commentnya udh banyak euy..

    BalasHapus
  9. Yo weys eka dah bagusy ekaa

    BalasHapus
  10. nice artikel dan menambah pengetahuan tentang penyakit hawar daun

    BalasHapus
  11. Trimaksih sudah menambah wawasan😊👍🏻👍🏻

    BalasHapus
  12. Artikelnya membantu banget deh. Bisa buat nambah ilmu juga, makasih ya udah bagi-bagi pengetahuan hehe

    BalasHapus
  13. ohh begitu ternyataa.. terimkaasih kak sharing ilmunyaaaa :)

    BalasHapus
  14. mantap ekaaa bisa buat referensi nih hehe

    BalasHapus